Selasa, 16 Juli 2019

Penggunaan Alat Kontrasepsi? Yuk kita lihat dari sudut pandang Psikologi Kesehatan!

Penggunaan Alat Kontrasepsi? Yuk kita lihat dari sudut pandang Psikologi Kesehatan!

Penulis : Thalia Soeriakarta Legawa (6016210100)


Sebelum kita membahas lebih dalam, kalian tau ngga sih sex behavior  itu apa?

Kalian tau kan sex behavior itu apa? Kesimpulan yang di dapat dari beberapa ahli, sex behavior tidak lagi digambarkan sebagai biologis berarti tujuan (reproduksi) tetapi sebagai kegiatan itu sendiri. Diskusi tentang bagaimana 'seks yang baik', orgasme dan kesenangan seksual menekankan seks sebagai tindakan, namun, bahkan sebagai aktivitas seks tetap dominan biologis. Kinsey menganggap seks sebagai dorongan yang alami dan sehat, Masters dan Johnson mengembangkan cara untuk mengukur dan meningkatkan pengalaman seksual dengan memeriksa perubahan fisiologis dan Hite menjelaskan kesenangan dengan deskripsi stimulasi fisik.

Sex behavior  ini tidak hanya terjadi di kalangan hubungan suami-istri saja, tetapi sudah merambat ke dewasa awal yang tanpa pernikahan bahkan remaja. Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Kementrian Kesehatan, (Kemenkes) pada Oktober 2013. Grafik tersebut memaparkan bahwa sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah .  20% dari 94.270  perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga berasal dari kelompok usia remaja dan  21%  diantaranya pernah melakukan aborsi.Lalu pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus, 30% penderitanya berusia remaja.

Adanya dampak dari perilaku seks yang tidak baik dan tidak sesuai menimbulkan penyakit yang diakibatkan oleh aktivitas seks. Penyakit yang timbul tidak hanya HIV atau AIDS tetapi banyaknya hamil diluar nikah itu juga bagian dari dampak aktivitas seksual juga loh.
Seks behavior dalam psikologi kesehatan, tidak hanya membahas mengenai hubungan antar personal individu saja, tetapi membahas penggunaan alat kontrasepsi atau kondom, orientasi seksual, dll yang berhubungan dengan kesehatan fisik maupun psikis individual.

Tapi, disini kita mau liat, sejauh mana alat kontrasepsi ini berhubungan dengan psikologi kesehatan atau ilmu psikologi lainnya.

Kalian tau ngga sih? Alat Kontrasepsi merupakan suatu cara atau metode yang bertujuan untuk mencegah pembuahan sehingga tidak terjadi kehamilan. Negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar mendukung program kontraspesi untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk dan untuk meningkatkan kesejahteraaan keluarga. Dalam hal ini pemerintah Indonesia menyelenggarakan program Keluarga Berencana atau KB melalui pengaturan kelahiran.

Eits, tapi disini, kita bukan bahas mengenai aktivitas seksualnya yang lebih mendalam, tetapi kita mau bahas dampak penggunaan alat kontrasepsi ini dalam ranah psikologi kesehatan. Emang nyambung ya? Alat kontrasepsi kan  salah satu alat yang diciptakan untuk mengindari pembuahan , dan psikologi kan lebih ke jiwa, emang nyambung??

Konsep Psikologi Kesehatan

Nah, mungkin kalian udah ada gambaran umum mengenai aktivitas seks secara biologis. Apasih hubungannya dengan psikologi?

Jadi teman-teman, dalam ranah psikologi kesehatan ini lebih kepada masalah interaksi. Maksudnya disini seks secara intrinsik merupakan interaksi di antara keduanya individu, dan pasti kita tau bahwa bidang psikologi mempelajari secara individu itu sendiri. Selain itu, penekanan baru-baru ini pada seks sebagai risiko terhadap kesehatan dan upaya yang dilakukan untuk menguji kompetensi individu dalam melindungi diri dari bahaya, mungkin telah menghasilkan model perilaku individualistis.

Dengan adanya dampak aktivitas seks seperti AIDS,HIV bahkan hamil diluar nikah membuat psikolog lebih menyoroti bagaimana hubungan atau interaksi individu dalam konteks hubungan (mis. interaksi antara individu) dan konteks sosial yang lebih luas (mis. makna sosial, norma sosial) ke individu (mis. keyakinan dan pengetahuan mereka).

Belum ada kesiapan untuk mengandung juga adalah salah satu dampak dari aktivitas seks sendiri. Kebanyakan orang yang melakukan aktivitas seks dan mengindari pembuahan terpaksa menggunakan alat kontrasepsi untuk tidak menimbulkan pembuahan. Dibalik itu, penggunakan alat kontrasepsi juga banyak yang tidak tau bagaimana dampaknya jika menggunakan dengan tidak tepat atau salah terhadap kesehatan.

Siapa sih biasanya yang menggunakan alat kontrasepsi akhir-akhir ini selain pasangan yang sudah menikah?

Ternyata Survei Nasional Sikap dan Gaya Hidup Seksual (Wellings et al. 1994) meneliti seks perilaku hampir 20.000 pria dan wanita di seluruh Inggris. Ini menghasilkan banyak data tentang faktor-faktor seperti usia hubungan seksual pertama, homoseksualitas, sikap terhadap perilaku seksual dan penggunaan kontrasepsi.  Hasilnya menunjukkan bahwa seseorang yang lebih muda adalah ketika mereka pertama berhubungan seks (baik pria atau wanita), semakin kecil kemungkinan mereka menggunakan kontrasepsi.

Menurut Lindmann Three-Stage Theory (Lindemann (1977)) menunjukkan bahwa kemungkinan seseorang menggunakan kontrasepsi meningkat ketika mereka berkembang melalui tiga tahap:
  1.          Tahap alami: pada tahap ini hubungan seksual relatif tidak terencana, dan individu tidak menganggap diri mereka sebagai seksual. Karena itu penggunaan kontrasepsi tidak mungkin.
  2.       Resep resep teman: pada tahap ini individu mencari saran kontrasepsi dari teman, hubungan seksual lebih sering dan kebanyakan kontrasepsi kurang efektif metode.
  3.     Tahap ahli: pada tahap ini, individu telah memasukkan seksualitas menjadi konsep diri mereka dan akan mencari saran profesional dan merencanakan penggunaan kontrasepsi

Tidak hanya faktor perkembangan saja, tetapi ada beberapa faktor yang mengakibatkan orang lebih sering menggunakan alat kontrasepsi. Seperti :

  • ·         Usia: bukti menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi wanita muda meningkat seiring bertambahnya usia (mis. Herold 1981).
  • ·         Jenis Kelamin: wanita tampaknya lebih cenderung menggunakan kontrasepsi daripada pria (mis. Whitley dan Schofield 1986).
  • ·         Etnisitas: beberapa bukti menunjukkan bahwa orang kulit putih lebih cenderung menggunakan kontrasepsi daripada kulit hitam (mis. Whitley dan Schofield 1986).
  • ·         Status sosial-ekonomi: ada bukti yang saling bertentangan mengenai hubungan di antaranya status sosial-ekonomi (SES) dan penggunaan kontrasepsi dengan beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan (mis. Hornick et al. 1979) dan lainnya yang menunjukkan tidak ada hubungan (mis. Herold 1981).
  • ·         Pendidikan: bukti menunjukkan bahwa kinerja sekolah lebih tinggi dan pendidikan lebih tinggi aspirasi dapat dikaitkan dengan penggunaan kontrasepsi (mis. Herold dan Samson 1980; Furstenburg et al. 1983).

Disisilain, pengambilan keputusan ini menganggap penggunaan kontrasepsi sebagai hasil dari analisis variabel yang relevan. Namun, mereka bervariasi sejauh mana mereka berusaha untuk menempatkan keadaan kognitif individu dalam konteks yang lebih luas, baik dari hubungan maupun dunia sosial.
Sheeran et al. (1991) berpendapat bahwa variabel yang berbeda ini berinteraksi untuk memprediksi penggunaan kontrasepsi. Mereka memasukkan faktor interpersonal dan situasional sebagai sarana untuk menempatkan kognisi individu dalam konteks hubungan dan dunia sosial yang lebih luas. Variabel-variabel ini dapat diterapkan secara individual atau alternatif dimasukkan ke dalam model. Secara khusus, model kognisi sosial menekankan kognisi tentang dunia sosial individu, khususnya mereka keyakinan normatif.

Jadi, dalam psikologi kesehatan meyoroti beberapa kesimpulan mengenai hubungan penggunaan alat konstrasepsi ataupun aktivitas seksual yang masih berkesinambungan dengan psikologi kesehatan, yaitu:

1)      Metodologi sebagai akses informasi, itu tidak mempengaruhi adanya hasil dari perilaku seks yang ada  Individu dapat dipelajari secara terpisah dari konteks sosial mereka. Ada psikolog sosial mempelajari proses seperti konformitas, dinamika kelompok, kepatuhan pada otoritas dan difusi tanggung jawab, yang semuanya menunjukkan bahwa individu berperilaku berbeda ketika mereka sendiri daripada ketika di hadapan orang lain dan juga menunjukkan sejauh mana dimana perilaku seseorang ditentukan oleh konteksnya. Namun, banyak penelitian psikologis terus memeriksa perilaku dan kepercayaan di luar konteks.

2)      Teori berasal dari data. Teori bukanlah data itu sendiri. Ini diasumsikan bahwa pada akhirnya kita akan mengembangkan cara terbaik untuk belajar seks, yang akan memungkinkan kita untuk memahami dan memprediksi perilaku seksual. Namun, mungkin pendekatannya berbeda dengan seks dapat memberi tahu kita sesuatu tentang cara kita melihat individu. Misalnya, berusaha menggabungkan interaksi antara individu ke dalam pemahaman tentang seks mungkin cara yang lebih baik untuk memahami seks, dan mungkin juga menunjukkan bahwa kita sekarang melihat individu sebagai interaktif. Selain itu, memeriksa konteks sosial juga dapat menyarankan hal itu model individu kita berubah dan kita melihat individu sebagai produk sosial.

KASUS
Z adalah dewasa awal berjenis kelamin laki-laki yang berusia 22 tahun. Z mempunyai kekasih 2 tahunl lebih muda dari Z. Z mengakui bahwa hubungannya dengan kekasih tidak hanya sebatas interaksi antar individu saja, tetapi sudah melakukan aktivitas seksual. Biasanya Z menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi, tetapi karena sudah terlalu sering, Z memutuskan untuk menyuruh pacarnya untuk melakukan KB agar tidak terjadi pembuahan secara cepat.
Dalam hubungan ini, Z mengakui bahwa kekasih perempuannya saja yang menggunakan alat kontrasepsi. Karena Z berpikir bahwa lingkungan sosialnya *teman sebaya* tidak menggunakan alat kontrasepsi dan biasanya memang perempuan saja yang memakai alat kontrasepsi.
Hal ini menjadi bukti bahwa jenis kelamin perempuan lebih banyak menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan laki-laki.

Kesimpulan
Penggunaan alat kontrasepsi tidak hanya sebatas pencegahan untuk mencegah  pembuahan, tetapi kita harus mengetahui dampak yang terjadi.
Disisi lain, tenyata perkembangan individu mempengaruhi alasan mengapa individu harus menggunakan alat kontrasepsi. Tidak hanya perkembangannya saja, tetapi faktor lingkungan dan budaya mempengaruhi invidu menggunakan alat kontrasepsi.
Dalam psikologi kesehatan ini lebih melihat sebab mengapa individu menggunakan alat kontrasepsi dan faktor apa yang mempengaruhi individu untuk menggunakan alat kontrasepsi.

Semoga dengan artikel ini dapat menambah wawasan teman-teman mengenai alat kontrasepsi yang ternyata berhubungan denga psikologi yaa.. Terimakasiih sudah membaca.

Lanjutkan dan sebar luaskan ya ilmunya J









Daftar Pustaka


Rabu, 14 November 2018

Visi Misi Perusahaan

Visi misi adalah suatu acuan untuk membangun perusahaan yang mempunyai tujuan agar tujuannya terwujud.

Visi dan Misi NET. TV
1.Visi NET.

Untuk membangun sebuah perusahaan media yang menarik dan memberi kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

2.Misi NET.

Menciptakan konten program yang kreatif, berkualitas dan menghibur melalui multi
platform

Visi misi dari NET TV ini membuat saya terinspirasi untuk membuat Visi misi perusahaan saya kedepannya untuk berkontribusi dalam kemajuan Indonesia kedepannya.

Visi
Mengasah bentuk kreatifitas karyawan melalui prakarya sebagai program perusahaan

Misi
Meluangkan waktu diantara jam kerja minggu karyawan untuk membuat kerajinan.

Visi misi yang saya buat berdasarkan karena saya inginn karyawan saya bisa membuat kerajinan kerajinan sederhana sehingga bisa mereka bisniskan atau mereka buat di rumahnya

Selasa, 18 September 2018

Proses Bisnis

Latar Belakang

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Menanggapi kenaikan kurs dolar terhadap rupiah, Direktur Utama PTPN VII Muhammad Hanugroho mengatakan, secara umum, kenaikan kurs dolar terhadap rupiah belum berpengaruh kepada proses bisnis PTPN VII.
Hal ini karena fluktuasi harga komoditas agro tidak sedinamis produk manufaktur.
Selain itu, perubahan harga di pasar ekspor mengacu kepada kontrak kerja dengan jangka cukup panjang.
Sehingga, pergerakan kurs sebagaimana yang digunakan dalam perdagangan komoditas agro relatif lambat.

"Namun demikian, PTPN VII sebagai entitas bisnis yang mengusahakan produk komoditas ekspor terus memantau dan mengikuti secara seksama pergerakan kurs, terutama dolar. Selain karena banyak komponen produksi yang mengacu kepada kurs mata uang asing, juga karena setiap transaksi komoditas yang dihasilkan selalu mengikuti tren nilai tukar mata uang asing," jelasnya kepada Tribun, Rabu (5/9).

PTPN VII Terima Yubelium
Ia menambahkan, PTPN VII adalah BUMN bidang agro yang mengusahakan empat komoditas yakni kelapa sawit, karet, gula, dan teh.
Dari empat komoditas itu, karet adalah produk dominan membidik pasar ekspor sedangkan kelapa sawit dan teh, meskipun diproyeksikan untuk ekspor, tetapi pasar lokal masih banyak menyerap produksi dari PTPN VII.
Sementara gula pasir, semuanya untuk memenuhi pasar lokal.
Komoditas karet yang diproduksi PTPN VII adalah produk bahan baku atau setengah jadi. (Tribun Lampung)

Karena adnaya fenomena tesebut yang sempat menyinggung proses bisnis yang tidak mempengaruhi kurs,maka dari itu saya akan mencari tau apa itu proses bisnis.

Rabu, 12 September 2018

Bisnis Proses

LATAR BELAKANG

Menkop dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) adalah gerakan yang tumbuh dari bawah, sehingga memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang.

Menkop mengakui, ratio wirausaha sebesar 3,1 persen itu masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain 
seperti Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen maupun AS yang 12 persen.
Bertumbuhnya wirausaha tak lepas dari peran masyarakat bersama pemerintah yang terus mendorong, juga swasta dan kalangan mahasiswa atau kampus.
Menkop Puspayoga mengajak mahasiswa peminat wirausaha untuk memanfaatkan skim kredit murah seperti KUR dengan suku bunga 9 persen, LPDB dengan auku bunga 0,2- 0,3 persen perbulan, maupun yang sekarang baru diluncurkan kredit ultra mikro dengan maksimum pinjaman Rp 10 juta.
Menkop berpesan pada pengusaha muda untuk menjadi social entrepreneur, yang tidak mengejar keuntungan semata namun juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
34 Ribu wirausaha
Sementara itu Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan 
program Wirausaha Muda Mandiri sudah melahirkan 34 ribu wirausaha muda yang mampu memberikan manfaat pada 45 ribu orang.
(http://www.depkop.go.id)
Karena fenomena tersebut,saya tertarik untuk membahas bisnis proses yang sedang berkembang di dunia anak muda untuk memulai dunia bisnisnya.Beberapa teman saya di lingkungan kampus juga rumah sudah memulai bisnisnya dengan modal tidak besar dan sampai sekarang mereka bisa menjalankan bisnis yang mereka bangun.
TEORI
Dalam proses berbisnis ada namanya Bisnis Proses,yaitu gambaran proses berbisnis dari mulai input,proses,dan output sehingga menghasilkan impact dari kegiatan bisnis tersebut.
   Pada pokoknya sumber ekonomi yang digunakan oleh perusahaan dapat dikelompokkan ke dalam :

      a. Manusia
      b. Uang
      c. Material
      d. Metode
   
     Keempat macam sumber ekonomi ini dikenal dengan singkatan 4M ( men, money, material dan method). Produksi tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya sumber-sumber tersebut. Sumber-sumber ekonomi, disebut juga input atau faktor-faktor produksi, penggunaannya mempunyai konsekuensi bagi perusahaan

METODE
Metode yang saya gunakan untuk membuktikan teori tersebut adalah wawancara.

WAWANCARA
Nama : Tegar Ari Baskara
Usia : 22 tahun
Berbisnis bidang : Minuman (Hyperbubble Link)
Alamat : Perumahan Mekarsari Permai Blok.E3 no.13. Kec.Cicurug Kab.Sukabumi,Jawa Barat.

Saya panggil beliau dengan sebutan Mas Ega. Mas Ega ini sudah memulai bisnis minumannya ini selama 1 tahun. Mas ega mempunyai 1 karyawan untuk membantunya ketika sedang berjualan minuman tersebut. Biasanya mas ega membuka stand minumannya di salah satu pelataran warung disekitar rumahnya. Dan urusan managementnya mas ega hanya mempekerjakan 1 orang karena mas ega ini merasa segala keperluan untuk jualan itu masih bisa dia handle.

Mas ega ini memulai bisnisnya bermodal 1jt. Untuk membuat gerobak dan pretelannya itu habis Rp.400rb dan untuk keperluan juicer,bahan minuman dll itu habis Rp.600rb.

Material yang dibutuhkan untuk jualan adalah Blender,Bubuk perisa minuman (rasa greeantea,taro,red velvet,coklat,vanilla,avocado),gelas plastik,cup gelas plastik,sedotan,es batu,air mineral,Creamer kental manis,Topping (bubuk oreo,biskuit twister,sereal coco crunch,keju),air gula,bubble,dan agar agar.

Metode membuat minuman ini pertama-tama bahan bubuk perisa sebanyak 3 sendok makan dimasukan ke blender,beserta 3 sendok sayur dan 1/2 air juga es batu dimasukan ke blender. Lalu siapkan cup yang sudah diisi bubble,agar agar dan creamer kental manis. Setalah itu masukan minuman yang sudah di blend kedalam cup dan tambahkan topping (bubuk oreo,biskuit twister,sereal cococrunch,keju)

Dalam bisnis prosesnya,mas ega melakukan input dengan 4 M diatas. Lalu proses membuat minuman tersebut sudah di jelaskan di atas bagaimana. dan dengan modal 1jt,mas ega meraih untung perbulan bisa 2 kali lipatnya. Minumannya tersebut di jual dari harga Rp.5000-Rp.7.000. Pemilihan tempat yang strategis juga menjadi faktor mengapa bisnisnya berjalan dengan lancar.

Impactnya untuk masyarakat,mereka terbantu untuk memuaskan diri minum minuman berasa dan untuk lingkungannya saah satunya membuat lokasi agak ramai karena ada yang beli sehingga ada interaksi,juga karyawan yang di pekerjakan mendapatkan impact karena mengurangi jumlah pengangguran di lingkungan sekitar.

Kesimpulan
Ketika kita akan memulai perencanaan bisnis,kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai Input,proses,outputnya. Input yang meliputi 4M (Man,Methods,Materials,Money) yang harus diperharikan karena mempengaruhi bisnis yang akan kita jalani kedepannya.




Selasa, 12 Desember 2017

Paradigma Menuju Kesuksesan

Bpk.Derli Fahlevi

Pada tanggal 08 november 2017,kelas psikologi bisnis saya kedatangan dosen tamu bernama Derli Fahlevi. Beliau selama jam pelajaran membagi kisahnya sebagai HR B2B di salah satu perusahaan yang menaungi pasar swalayan.
Saat sesi foto bersama..

Awalnya karir,beliau yang lulusan teknik industri tiba-tiba diberi tantangan ketika melamar pekerjaan untuk pertama kalinya untuk menduduki kursi Human Resource,padahal sebelumnya beliau tidak ada pengalaman di bidang tersebut. Karena keadaan tersebut membuat beliau untuk belajar mengenai HR sampai berteman dan bergabung ke komunitas yang menaungi HR untuk mencintai pekerjaannya.
Menurut beliau passion itu ada kalau ada creation,jadi kita harus ikuti passion kita harus berdasarkan juga motivasi. Beliau bertanya siapa yang di kelas saya memilih untuk menjadi pengusaha atau kerja setelah S1. Lalu beliau menjelaskan sebaiknya kita bekerja dulu,karena supaya kita bisa tau bagaimana alur dan struktur bisnis itu.

Lalu ketika kita ingin melamar pekerjaan,yang harus kita cari adalah visi misi perusaahaan. Kenapa? Karena jika kita tau visi misi perusahaan dan sesuai dengan diri kita,kita bisa menjadi pribadi yang diharapkan dalam perusahaan. Dan ketika kita sesi interview,kita harus memberi tau keadaan kita agar kedepannya perusahaan bisa mempersiapkan apa yang kita perlukan.

Potensi vs Kompetisi
Kompetisi itu meliputi attitude,knowladge dan skill. Attitude penting dalam kompetisi karena pengetahuan kita pada suatu materi tergantung attitude. Attitude juga sangat mempengaruhi kesuksesan. Makadari itu untuk mempunyai attitude yang baik kita harus memiliki EQ dan ESQ yang baik juga.

\\Entepreneur\\
Istilah entepreneur sangat populer saat ini,seorang entepreneur harus memiliki Discovery (penemuan),Invention (sesuatu yang belum pernah ada), dan Inovation (memodifikasi yang ada)
Beliau juga memberi gambaran untuk hidup dari sampul bukunya. 


Dalam sampul tersebut kita harus memilih untuk menjadi lebah atau lalat. Ibarat karena lebah mencari bunga dan membawa hasil madu,lalu lebah ketika pulang dengan rute yang berbeda ketika mereka pergi. Mereka tetap mencari sari bunga untuk dijadikan madu. Jika lalat,lalat hanya terbang tak tentu mencari makanandi tumpukan sampah yang kotor. Jadi,kita ingin menjadi orang yang bermanfaat seperti lebah atau tidak bermanfaat seperti lalat?

Itu pilihan.. Silahkan pilih..

Terimakasih....

Rabu, 29 November 2017

Review Film Door To Door (2002)





Door To Door (2002)
Gambar terkait

Bill Porter seorang pemuda cacat. Waktu ibunya melahirkan Bill, dokter menggunakan alat vacuum yang meleset, sehingga merusak sebagian syaraf otak Bill. Akibatnya dia jalan seperti orang mabuk, tangan kanannya bergantung begitu saja, dan bicaranya pun tidak jelas.

Singkat cerita,Bill Porter ingin melamar pekerjaan tetapi bos perusahaan tersebut tidak menerima Bill karena keterbatasanya itu,ketika Bill keluar dari gedung dan melihat ibunya di seberang jalan untuk menunggu dirinya,Bill memutuskan untuk kembali bertemu bos perusahaan tersebut agar Bill bisa bekerja walaupun memiliki keterbatasan sampai Bill rela mengambil posisi pekerjaan yang orang lain tidak mau mengambil posisi tersebut. Akhirnya bos perusahaan  tersebut menerima Bill sebagai salesman dari perusahaan tersebut.

Karena Bill menjadi salesman,dia harus berjalan 10 km dan singgah ke rumah-rumah untuk menawarkan barang yang ia jual sampai sore. Namun tidak selalu berjalan mulus,banyak orang-orang yang menolak penawaran Bill tentang produknya. Bill sempat kecewa,tapi Bill tidak menyerah dan karena kegigihan Bill,Bill menjadi salah satu Best Salesman. Mengapa bisa? Karena Bill mencoba merubah teknik pendekatan untuk menawarkan produknya kepada konsumen,seperti dia akan datanng setiap hari untuk memahami konsumennya sehingga konsumennya membeli produk Bill.

Analisis kasus berdasarkan Psikologi Bisnis

Professionalis
Menurut Daryl Koehn, Profesional adalah orang yang memberikan peleyanan kepada klien
Menurut Budi Purnawanto, Profesional adalah bagian dari proses, fokus kepada output dan berorientasi ke custemer.

Dengan mengacu kepada pengertian tersebut,bisa dikatakan Bill memiliki professionalis yang tinggi. Karena sebelumnya walaupun Bill sudah dianggap tidak ada,tidak dihargai sampai dilecehkan kliennya tetapi Bill tetap menjadi seorang salesman yang menawarkan produknya sampai Bill harus datang setiap saat kepada kliennya untuk memahami kliennya dan bisa menawarkan produk yang dijual Bill.

Individual Difference
Dinamika perilaku seseorang dari individual differences mempengaruhi performance individu/organisasi.
Bill disini terlahir tidak normal dengan cacat fisik dan neurotiknya. Namun karena perbedaan tersebut membuat Bill untuk tidak menyerah dan tetap mencoba untuk menjual produknya. Walau hambatan dengan cacat fisik dan neurotiknya yang bermasalah Bill berjuang dengan potensi yang dia punya untuk menjadi individu yang pantang menyerah,mencoba memahami konsumen,membantu konsumen, dan lain-lain.

AQ (Adversity Quetient) Dengan AQ tinggi yang dimiliki,Bill memutuskan untuk bertahan dalam pekerjaannya walaupun menerima banyak penolakan dan sebagainya. Tetapi Bill tidak semena-mena untuk memilih keluar dari perusahaan. Sampai pada akhirnya karena AQ yang dimiliki Bill bisa mengantarkan sampai Bill mendapat penghargaan Best Salesman.

EQ (Emotional Intellegence)

Selain itu,Bill mempunyai EQ yang tinggi juga karena dia bisa mengatur emosionalnya menghadapi klien-kliennya yang bersikap merendahkan Bill,tetapi Bill tidak menjadi benci kepada kliennya ataupun marah walaupun sedikit sedih karena seperti dilecehkan. Tetapi walaupun begitu Bill memutuskan untuk tenang dan bersabar.

Berikut hasil analisis film Door To Door berdasarkan apa yang telah saya pelajari di mata perkuliahan Psikologi Bisnis. Terimakasih...